Rabu, 24 Agustus 2011

pendalaman materi kalor


 KALOR


            Kalor merupakan salah satu bentuk energi yang dapat berpindah. Untuk memahami tentang kalor lakukan kegiatan 1.1 terlampir
Energi yang berpindah dalam kegiatan inilah yang disebut kalor. Jadi kalor adalah bentuk energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yag suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan.
a.       Kalor dapat mengubah suhu suatu benda
Jika pada suatu zat atau benda diberikan kalor, akan terjadi tiga macam perubahan, yaitu perubahan suhu, wujud, dan volume benda. Agar kamu dapat memahaminya kita lakukan kegiatan 2.2 terlampir
Kalor yang diberikan oleh api pada air ternyata dapat menaikkan suhu air, jadi kalor dapat mengubah suhu benda. Besarnya kalor (Q) yang diberikan kepada suatu zat sebanding dengan kenaikan suhunya (∆T) atau dapat ditulis :
Q ~ ∆T

b.      Kalor dapat mengubah wujud zat
Jika pemberian kalor pada benda tidak lagi digunakan untuk mengubah suhunya, maka kalor itu akan digunakan untuk megubah wujud benda tersebut. Untuk memahami peristiwa pemberian kalor yang digunakan untuk perubahan wujud marilah kita lakukan kegiatan 2.3 berikut : terlampir
Kalor yang diberikan pada lilin dapat mengubah wujud lilin padat menjadi cair, dan ketika kalor dilepaskan (lilin didinginkan) maka lilin cair berubah kembali menjadi padat. Denga demikian dapat disimpulkan bahwa kalor dapat mengubah wujud lilin padat menjadi lilin cair. Kalor dapat mengubah wujud benda.
Pada saat lilin sedang melebur (mencair) terlihat bahwa suhunya tetap, tidak naik walaupun pemanasan berjalan terus. Demikian juga pada saat lilin cair berubah wujud menjadi lilin padat kembali suhunya juga tetap. Dapat disimpulkan bahwa pada saat sedang berubah wujud, suhu zat selalu tetap karena kalor yang diterima oleh zat itu dipergunakan untuk megubah wujud zat. pada saat sedang berubah wujud suhu zat selalu tetap.
Perubahan wujud dapat dikelompokkan berdasarkan penerimaan dan palapasan kalor, yaitu :
1). Perubahan wujud yang diakibatkan penerimaan kalor
(a). Mencair, yaitu perubahan wujud dari zat padat menjadi cair.
(b). Menguap, yaitu perubahan wujud dari zat cair menjadi uap air.
(c). Menyublim, yaitu perubahan wujud dari zat padat menjadi gas.

2). Perubahan wujud yang diakibatkan pelepasan kalor
(a). membeku, perubahan wujud dari cair menjdai padat
(b). mengembun, perubahan wujud dari gas menjadi cair
(c). mengkristal, perubahan wujud dari gas menjdai menjadi padat

c. faktor-faktor yang mempercepat penguapan
        Menguap adalah proses perubahan wujud dari wujud cair menjadi uap. Penguapan terjadi jika gelembung-gelembung zat cair bergerak meninggalkan permukaan zat cair. Untuk menguap suatu zat memerlukan kalor, namun tidak selalu harus melalui proses pemanasan. Jika zat tersebut mempunyai sifat mudah menguap, ketika terjadi penguapan zat itu cukup mengambil sedikit kalor dari zat di dekatnya atau ruang sekelilingnya saja.
        Zat cair menguap karena beberapa molekulnya bergerak lebih cepat daripada molekul-molekul lainnya. Dalam zat cair, molekul-molekul saling bertabrakan, dan molekul-molekul yang bergerak lebih cepat dan dekat ke permukaan dapat meninggalkan moelekul-molekul lainnya untuk membentuk gas.
            Ada lima cara yang dapat kita lakukan untuk mempercepat penguapan, yaitu :
1). Memanaskan
2). Memperluas permukaan
3). Meniupkan udara di atas permukaan
4). Menyemburkan zat cair
5). Mengurangi tekanan pada permukaan
        Sebagai contoh tetesan alkohol atau spirtus ke tanganmu, apa yang kamu rasakan? Spirtus atau alkohol sifatnya mudah meguap, saat menguap dia cukup mengambil kalor dari tanganmu, itu sebabnya tanganmu terasa dingin. Dari contoh di atas jelas bahwa untuk menguap tidak selalu melalui proses pemanasan.
        Untuk megetahui fakto-faktor apa saja yang dapat mempercepat penguapan mari kita lakukan kegiata 2.4 terlampir
Penguapan zat cair dapat dipercepat denga cara memanaskan zat cair, meniupkan udara di atas permukaan zat cair, memperluas permukaan zat cair, dan mengurangi tekanan uap pada permukaan zat cair.    
d.      Kalor Uap
Zat cair dapat menguap pada berbagai suhu. Jika suhunysa dinaikan penguapan zat cair menjadi lebih cepat. Semakin tinggi suhu, semakin cepat pula penguapan itu. Jika suhu dinaikkan terus menerus, akhirnya pada suhu tertentu akan terjadi penguapan diseluruh bagian zat cair, dengan uap air berbentuk gelombang udara.
Adanya gelembung-gelembung udara dari seluruh bagian zat cair menunjukkan bahwa zat cair itu sedang mendidih. Dengan kata lain, mendidih adalah peguapan yang terjadi diseluruh bagian zat cair itu. Air mendidih pada suhu 100 0C. Dengan tekanan sebesar 1 atm (76 cm Hg). Suhu 100 0C pada air mendidih ini disebut titik didih normal. Setiap zat yang berbeda akan memilki titik didih yang berbeda pula. Begitu juga untuk zat yang sama pada tekanan udara yag berbeda akan berbeda pula titik didihnya. jadi, besarnya titik didih suatu zat dipengaruhi oleh jenis zat dan tekanan udaranya.
Berapakah kalor yang diperlukan untuk mengubah wujud zat cair menjadi gas pada titik didihnya? Pada kenyataanya, untuk menguapkan 1 kg air menjadi uap pada suhu 1000C (titik didih air), kita harus memberikan kalor sebanyak 2 260 000 J. Akan tetapi untuk menguapkan 1 kg alkohol menjadi uap pada titik didih (780C), kita hanya perlu memberikan kalor sebanyak 1 100 000 J.
Jadi angka 2 260 000J/kg adalah khas untuk air dan 1 100 000 J/kg khas untuk alkohol. Angka 2 260 000J/kg disbut kalor uap air dan angka 1 100 000 J/kg disebut kalor uap alkohol. Zat cair lain akan memiliki nilai kalor uap yang berbeda. Jadi kalor uap suatu zat adalah banyaknya kalor (joule) yang diperlukan untuk menguapkan 1 kg zat cair pada titik didihnya.
Titik didih dan kalor uap beberapa zat padat dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel : titik didih dan nilai kalor uap berbagai zat
Zat                              td normal (0C)                        uap kalor(J/kg)
Alkohol                        78                                1.100.000       
Raksa                           357                              272.000
Air                               100                              2.260.000
Timah hitam                  1750                            871.000
Temabaga                    1187                            5.069.000
Perak                           2193                            2.336.000
Emas                            2660                            1.578.000

Besarnya kalor yang diperlukan untuk menguap dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut :
Q = m . U
Keterangan :
Q = kalor yang diperlukan atau dilepaskan (J)
m = massa zat (kg)
U = kalor uap atau kalor didih (J/Kg)
Pada proses pengembunan, banyak kalor yang dilepaskan untuk mengembunkan 1 satuan massa zat disebut kalor embun.Besarnya kalor uap suatu zat sama dengan kalor embun jika banyaknya zat itu sama.

Contoh :
Brapakah kalor yang diperlukan untuk menguapkan 200 gram air pada titik didihnya? ( kalor uap air = 2,27 x 10 6 J/Kg)
Penyelesaian :
Diketahui m = 200 g = 0,2 kg
                 U = 2,27 x 10 6 J/kg
Ditanya : Q
Jawab : Q = m . U
                 = 0,2 kg x 2,27 x 10 6 J/kg
                 = 454.000 J
Pemanfaatan konsep perbedaan titik didih zat cair dapat dilakukan ketika ingin medapatkan air murni dari air tidak murni, yaitu melalui penyulingan. Misalnya air kotor (tidak murni) dilakukan penyulingan (destilasi) sehingga diperoleh air bersih yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam kebutuhan air sehari-hari.
Cara kerja dari alat penyulingan air sederhana adalah sebagai berikut. Air tidak murni dimasukkan ke dalam labu tahan panas kemudian labu dipanskan hingga air dalam labu mendidih dan menguap. Uap air yang terbentuk kemudian dialirkan melalui pipa. Di dalam pipa dipasang kondensor (pendingin) yang berisi air dengan arah aliran yang berlawanan dengan arah aliran uap air.
Akibatnya uap air murni yang mengalami kontak dengan air dingin mengalami pengembunan dan terbentuk titik-titik air murni yang semakin lama semakin banyak. Air murni tersebut kemudian ditampung dalam gelas atau tabung.
Alat tersebut dapat juga digunakan untuk mendapatkan alkohol murni dari campuran air dan alkohol. Karena titik didih alkohol lebih rendah daripada titik didih air, uap yang terbentuk lebih banyak mengandung alkohol sehingga hasil silignan merupakan alkohol.

e.       Kalor Lebur dan Kalor Beku
1.      Kalor yang diperlukan zat ketika melebur
Untuk memelbur, zat memerlukan kalor dan pada waktu melebur suhu zat tetap. Sebaliknya untuk membeku zat melepaskan kalor dan pada waktu membeku suhu zat tetap. Untuk mengamati hal tersebut, lakukan kegiatan berikut :
Kegiatan : melebur dan mebeku
Alat dan bahan yang dierlukan adalah sebuah tabung reaksi, bejana kaca, lilin, termometer, pembakar bunsen, dan air secukupnya.
Melebur :
Panaskan sejumlah air dalam suatu bejana kaca tahan api. Celupkan sebuah tabung yang berisi lilin padat ke dalam air. Bacalah suhu lilin setiap setengah menit sampai semua lilin melebur.
Membeku :
Keluarkan tabung yang telah berisi lilin cair dari air mendidih dalam bejana. Biarkan lilin mendingin di udara, dan bacalah suhu lilin setiap menit.
             Dari hasil bacaanmu, buatlah grafik suhu terhadap waktu. Berilah tanda anak panah pada bagian grafikmu uang menunjukkan suhu pada saat lilin melebur dan membeku. Nyatakanlah kesimpulanmu tentang proses melebur dan membeku.

2.      Kalor yang diperlukan zat ketika melebur
Kalor yang diperlukan untuk meleburkan 1 kg zat padat menjadi 1 kg zat cair pada titik leburnya dinamakan kalor lebur. Suhu suatu zat tetap selama melebur atau membeku disebut titik lebur atau titik beku. Jadi titik lebur suatu zat sama dengan titik bekunya. Adapun kalor yang digunakan untuk membekukan 1 satuan massa disebut kalor beku.
Persamaan melebur suatu zat dapat dilukiskan sebagai berikut :
Q = m . L
Keterngan :
Q  = kalor yang diperlukan atau dilepskan (J)
m  = massa zat (kg)
L  = kalor lebur (J/kg)
Setiap zat memerlukan/melepaskan kalor yang berbeda untuk melebur atau membeku. Berikut ini merupakan tabel bebrapa kalor lebur untuk zat yang berbeda :
                    Tabel : kalor lebur beberapa zat
Zat                          titik lebur (0C)    kalor lebur (j/kg)
Air                               0                                  3,34 x 105
Alkohol                        -114                             1,04 x 105
Asam sulfat                   8,6                               1, 63 x 105
Bismut                          271                              5,22 x 104
Nitrogen                       -210                             2,25 x 104       
Oksigen                        -219                             1,38 x 104
Raksa                           -39                               1,17 x 104
Seng                             420                              1,00 x 105
Timbal                          330                              2,47 x 104

Beberapa kalor yang diperlukan untuk meleburkan 100 gram es pada titik leburnya? (kalor lebur es = 3,34 x 105 J/kg.
Penyelesaian :
Diketahui m es = 100 g = 0,10 kg
                 L es = 3,34 x 105 J/kg
Ditanyakan : Q
Jawab          Q =  m . L
                        =  0,10 kg x 3,34 x 105 J/kg   =  33.400 J
           
f.        Hubungan antara kalor, kenaikan suhu, massa, dan massa jenis.
 Untuk mengetahui hubungan antara kalor dengan kenaikan suhu, jumlah massa dan massa jenis zat cobalah kamu lakukan kegiatan 2.5 terlampir. Jumlah kalor yag diterima atau dilepaskan suatu benda besarnya sebanding dengan massa, jenis benda, dan kenaikan atau penurunan suhu. Sehingga persamaan untuk kalor dapat ditulis sebagai berikut :
∆Q = m . c . ∆T
Keterangan :
∆Q = jumlah kalor yang diterima atau dilepaskan (J)
m   =  massa benda (kg)
c    =  kenaikan atau penurunan suhu (0C)         
∆T =  kalor jenis (J/kg 0C)
Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang diterima atau dilepaskan oleh 1 kg benda apabila suhunya naik atau turun 1 derajat cercius.
Contoh :
Berapa banyaknya kalor yang diperlukan untuk memanaskan 500 gram air dari 10 0C menjadi 60 0C, jika kalor jenis air aitu adalah 4,2 x 10 3 J/kg 0C.
Jawab :      ∆Q = m . c . ∆T
                                    = 0,5 kg  x  4,2 x 10 3 J/kg 0C x (60 -10) 0C
                                    = 105.000 Joule

g.       Peralatan sederhana yang dimanfaatkan sifat kalor
Adalah :
1.      kawat kasa sering diletakkan di atas sebuah pembakar bunsen untuk menghantarkan kalor yang keluar dari api secara merata. Sebuah bejana kaca dapat dengan aman dipanaskan di atas  kasa sebab kasa melindungi bejana dari konsentrasi kalor api. Jika bejana kaca langsung dipanaskan ada kemungkinan bejana kaca akan pecah. Sebabnya, kaca itu tidak tahan terhadap konstrasi api yang menghasilkan energi kalor yang sangat tinggi (konsentrasi api adalah api yang memusat pada satu titik).
2.      Panci pada umumnya terbuat dari aluminium, temabaga, atau besi (konduktor). Bahan-bahan itu muda mennghantarkan kalor dari api ke bahan makanan ataiair yang dimasak.
3.      Otoklaf, yaitu alat untuk membunuh hama atau bakteri pada alat kedokteran
4.      Jika panci memiliki gagang dari bahan logam, gagang itu juga menjadi panas selama makanan dipanskan. Agar itu tidak terjadi umumnya panci memiliki gagang dari bahan kayu atau plastik yang tidak begitu banyak menghantarkan kalor. Dengan demikian gagang tetap dingin dan ama untuk dipegang.

h.       Azas Black
Mengapa jika air panas dicampur dengan air dingin maka air campurannya menjadi hangat. Dalam peristiwa ini air panas melepaskan kalor sehingga suhunya turun dan air dingin menerima kalor sehingga suhunya naik.
      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa zat cair yang dimiliki energi kalor lebih tinggi melepaskan kalornya kepada zat yang energi kalornya lebih rendah sehingga terjadi keseimbangan energi.
      Samakah kalor yang diberikan zat cair yang energi kalornya lebih tinggi dengan zat cair yang energi kalornya lebih rendah tersebut? Joseph Black seorang sains berhasil menemukan bahwa banyaknya kalor yang dilepaskan oleh zat cair yang memiliki energi kalor lebih tinggi sama besarnya dengan kalor yang diterima oleh zat cair yang energi kalornya lebih redah. Banyaknya kalor yang dilepaskan sama  dengan banyaknya kalor yang diterima.
      Selanjudnya penemuan ini dikenal dengan istilah Azas Black yang persamaannya dituliskan sebagai berikut :
Qlepas = Qterima
Contoh
Sepotong besi yang bermassa 200 gram dan suhunya 100 0C dimasukan ke dalam 400 gram air yang suhunya 20 0C. Jika kalor jenis air 4,2 x 103 j/kg0C dan kalor jenis besi adalah 4,6 x 102 J/kg0C, tentukan suhu akhir campuran besi dan air tersebut?
Jawab :
                                                Qlepas = Qterima
         Mbesi . cbesi . (Tbesi- Ta)  =  mair . cair . (Ta – Tair)
   0,2 kg x 4,6 x 102 J/kg0C x (100 – Ta) = 0,4 kg x   4,2 x 103 j/kg0C  x  (Ta – 20)
                              92 (100 – Ta) =  1680 (Ta – 20)
                            9200 – 92 Ta   =   1680 Ta – 33.600
                           9200 + 33.600 =  1680 Ta  +  92 Ta
                                        42800  =   1772 Ta
                                               Ta  =  24,15 0C

Jadi suhu campuran akhir adalah 24,15 0C
Latihan :
1.       berapakah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikan suhu 5 kg (Tes -100C) sampai ke titik leburnya 00C, jika diketahui kelor jenis es 2100 J/kg0C?
2.      berapakh banyaknya kalor yang diperlukan untuk melebur 5 kg es yang suhunya 00C menjadi 5 kg yang suhunya 1000C? (jika diketahui kalor lebur es 336.000J/kg0C)
3.      berapakah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikan 5 kg air1000C menjadi 5 kg yang suhunya 100 0C, jika diketahui kalor jenis air 4200J/kg?
4.      berapakah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menguapkan 5 kg air 00C menjadi 5 kg uap uap air yang suhunya 100 0C, jika diketahui kalor uap air 2.260.000J/kg?
5.      berapakah banyaknya kalor yang diperlukan untuk melebur 5 kg es yang suhunya -10 0C menjadi 5 kg uap air suhunya 100 0C?

i.        Perpindahan Kalor
Jika  tangan kamu menggenggam sepotong kecil es batu maka kalor akan merambat dari tanganmu ke es batu sehingga lama kelamaan es batu kecil itu akan mencair. Jika secara tidak sengaja kamu memegang panci panas maka kalor dari panci panas merambat ke tanaganmu sehingga tanganmu merasa panas. Baju yang basah bila dijemur diterik matahari akan kering. Air dingin bila dipanaskan akan menjadi menjadi air panas. Peristiwa yang telah disebutkan adalah kejadian yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaannya bagaimana cara kalor itu berpindah dari satu benda ke benda lain?
Ada tiga cara perpindahan kalor, yaitu :
1. konduksi
2. konveksi
3. radiasi

1. Konduksi
Ketika kamu sedang duduk di bangku paling belakang dan ingin memberikan pensil ke teman di bangku paling depan, apakah yang kamu lakukan? Kamu dapat memberikan pensil itu ke teman yang duduknya tepat didepanmu. Lalu teman itu memberikannya ke teman di depananya lagi. Demikian seterusnya samapi ke teman yang kamu tuju. Pensilmu dapat sampai ke teman yang kamu tuju karena ada perpindahan pensil dari sat tangan ke tangan lainnya. Apakah teman yang memberikan pensil ikut berpindah? Jelas pensil berpinda tetapi temanmu tidak ikut berpindah.
Peristiwa pepindahan kalor dari ujung logam panas ke ujung logam yang dingin mirip dengan perpindahan pensil yang telah dilakukan di atas. Molekul-molekul ujung yang panas bergetar lebih cepat. Molekul-molekul itu meneruskan kalornya ke molekul-molekul berikutnya. Demikian seterusnya sampai ujung yang dingin begetar lebih cepat. Sebagai hasilnya ujung yang dingin menjadi panas. Seperti halnya teman yang memberikan pensil, molekul-molekul yang dilalui kalor tidak ikut berpindah.
Contoh yang lainnya dapat kita lihat pada perpindahan kalor dari tanganmu ke es batu, atau dari panci panas ke tanganmu adalah pepindahan kalor secara konduksi. Untuk dapat memahami perpindahan konduksi dapat dilakukan kegiatan 2.7 terlampir
Mengapa pakaian yang disetrika menjadi halus atau tidak kusut? Di dalam setrika listrik terdapat filamen dari bahan nikelin yang bebentuk kumpuran. Nikelin ini ditempatkan pada dudukan besi. Ketika listrik mengalir, filamen listrik menjadi panas.
Panas ini dikondusikan pada dudukan besi dan akhirnya dikondisikan pada pakaian yang disetrika. Dengan demikian setrika mengkonduksi kalor pada pakaian yang disetrika. Jadi dapat disimpulkan bahwa Konduksi adalah perpindahan kalor secara rambatan yaitu perpindahan kalor melalui zat padat tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut.

2. Konveksi
Air dingin apabila dipanaskan akan menjadi air panas. Pada proses tersebut terjadi perpindahan kalor secara konveksi. Konveksi dapat terjadi pada zat cair dan gas.
Bagaimana cara perpindahan kalor pada pemanasan air tersebut?
Untuk itu lakukan kegiatan 2.9 terlampir
Konveksi adalah perpindahan kalor secara aliran melalui zat padat dan gas yang disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut. Konveksi juga terjadi pada  gas, misalnya pada perpindahan udara. Hal ini dapat diketahui dengan melakukan kegiatan 2.10 terlampir
Beberapa contoh peristiwa yang terjadi akibat adanya koveksi udara adalah sebagai berikut :
1). Bertiupnya angin laut pada sing hari, sehingga daratan lebih cepat menjadi panas dari pada lautan dan udara didaratan naik dan digantikan oleh udara dari lautan
2). Bertiupnya angin darat pada malam hari, sehingga daratan lebih cepat menjadi dingin daripada lautan dan udara di atas lautan naik dan digantikan oleh udara dari daratan.
3). Adanya sirkulasi udara pada ruang kamar di rumah
4). Adanya cerobong asap pabrik.

3.  Radiasi
Bagaimana energi kalor dari matahari dapat melalui atmosfer bumi dan menghangatkan bumi? Anda telah megetahui bahwa kalor dari matahari tidak dapat melalui atmosfer secara konduksi karena udara yang terdapat di atmosfer tergolong konduktor paling buruk. Kalor dari matahari juga tidak dapat sampai ke bumi melalui konveksi karena konveksi selalu diawali dengan pemanasan bumi terlebih dahulu. Selain itu perpindhan kalor secara konduksi atau konveksi tidak mungkin melalui ruang hampa yang terdapat di antara atmosfer bumi dan matahari. Jadi kalor dari matahari dapat samapai ke bumi walaupun tanpa zat perantara. Perpindahan kalor seperti ini disebut pancaran atau radiasi.
Radiasi adalah perpindahan kalor tanpa zat perantara (medium)
Di malam yang dingin kelompok siswa yang berkemah selalu menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Bagaimana kalor dari api samapi ke tubuh mereka? Jika rambatan itu dimisalkan secara konveksi, udara panas dekat api akan naik. Jadi rambatan secara konveksi adalah naik. Akan tetapi pada kasus ini rambatan kalor adalah ke samping. Jadi rambatan kalor di sini pastilah secara radiasi.
Alat yang digunakan untuk mengetahui atau menyelidiki adanya radiasi disebut termoskop. Dari hasil penyelidikan dengan termoskop dapat diketahui bahwa :
1.      Permukaan hitam yang kusam adalah penyerap radiasi kalor yang baik sekaligus pemancar kalor radiasi yang baik pula.
2.       Permukaan yang putih dan mengkilap adalah penyerap atau pemancar radiasi yang buruk.
3.       Jika diinginkan agar kalor kalor yang merambat secara radiasi berkurang, permukaan (dingin) harus dilapisi suatu bahan agar berkilap (misal dilapisi dengan perak).

Dari penegtahuan tentang 3 cara perpindahan kalor kita dapat membuat suatu tempat penyimpanan yang menjaga kalor masuk atau keluar. Salah satu contohnya adalah termos.
Dinding termos terbuat dari kaca. Mengapa? Permukaan dalam dindingnya dilapisi perak yang mengkilap. Mengapa? Ruang antara kedua lapisan perak dihampakan. Mengapa? Sumbat termos terbuat dari isolator. Mengapa?
Penyebabnya adalah terhalangnya aliran energi kalor keluar dari termos. Dengan demikian air panas di dalam termos tetap panas selama beberapa jam.

Daftar Pustaka :



Depdiknas. 2000. Soal-soal UAN tahun 2000 samapai 20006.       
Eni Zaetniah, Setiawan, Shrie Laksmi S. 2004. Fisika 2 SMP. Rosda Bndung
Marthen Kenginan. 2000. Fisika SLTP 2A. Erlangga : Jakarta
Sears, F.W. &M.W Zemansky. 1985. Fisika untuk Univesitas Jilid 1. Bandung : Bina Cipta
TIM IPA. 2007. IPA 2B. Yudhistira : Jakarta 
Tine Maria Kuswati. Dkk. 2003. Sains 2B. Bumi Aksara : Jakarta
Young, Loo Wanm et al. 2001. Physics Insights. Singapore : Longman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar